Loading...

Wabup Bojonegoro: Kepemimpinan Soekarno Patut Diteladani

Senin : 31 Mei 2021 : 00:19:00 Editor: Heri Setiawan
Wabup Bojonegoro: Kepemimpinan Soekarno Patut Diteladani
Acara ngobrol pintar membahas pemikiran Soekarno dan Nasionalisme yang dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro di Warung K-Noeman, Campurejo, Bojonegoro, Minggu (30/5/2021).

SENTRALONE.ID | BOJONEGORO - Wakil Bupati Bojonegoro Drs. H. Budi Irawanto, M. Pd., menghadiri acara Ngobrol Pintar (Ngopi) dengan tema Quo Vadis Pemikiran Soekarno dan Nasionalisme.

Acara yang digelar di Warung K-Noeman, Campurejo, Bojonegoro, Minggu (30/5/2021) itu dalam rangka refleksi jelang peringatan Bulan Bung Karno.

Hadir sebagai pembicara adalah Yuska Harimurti aktivis Gusdurian Jawa Timur, dengan Host Bung Aven Januar Koordinator Forum Jokowi Jatim dan sejumlah aktivis pemuda Bojonegoro, tokoh masyarakat dan tokoh politik serta media.

Wakil Bupati Bojonegoro mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan ini, diharapkan dari refleksi ini bisa untuk masukan bagi dirinya dalam memimpin Kabupaten Bojonegoro.

"Semoga acara ini dapat menjadi masukan bagi kami, dan semoga kami bisa meneladani kepemimpinan Soekarno," kata Wabup Bojonegoro.

Dalam kesempatan itu, Budi juga menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu sungkan dalam memberikan kritik dan masukan yang membangun untuk kemaslahatan masyarakat Kabupaten Bojonegoro.

"Kritik dan saran sangat penting bagi kami, terus lakukan hal yang baik selagi bisa dan konsisten," uxap Wakil Bupati Bojonegoro.

Sementara itu, Imam Muklas selaku panitia menyampaikan acara ini bertujuan menciptakan ruang dan membudayakan diskusi terkait dengan pentingnya Pancasila dan eksistensi Soekarno dimasa kini.

"Momentum jelang bulan Bung Karno adalah waktu yang tepat bagi siapa saja untuk berbicara tentang sosok Proklamator ini," kata Imam.

Di tempat sama, pemateri Yuska Harimurti menyampaikan bahwa pemikiran dan semangat soekarno sangat keren, dan Pancasila sebagai dasar negara adalah pemikiran orisinil Soekarno yang diambil dari sumber-sumber kearifan lokal bangsa Indonesia, yang tidak dimiliki oleh bangsa atau negara manapun.

"Proses pembangunan modernisasi tak bisa dihindari, namun dalam modernisasi pembangunan jangan sampai menghilangkan kearifan lokal yang ada di satu daerah," kata Yuska di hadapan audiensi ngobrol pintar.

Menurutnya, diskusi seperti ini adalah dialektika untuk memberikan masukan dan kritik kepada pemerintah.

"Kita perlu pertanyakan kepada pemerintah karena tujuan negara adalah menuju masyarakat yang adil dan makmur. Kita wajib mempertanyakan apakah pemerintah sudah melaksanakan pemerintahan sesuai Pancasila?" ujarnya.

Yuska Harimurti menambahkan dengan diskusi ini semoga pemikiran Soekarno dan Pancasila bisa diterapkan ke daerah, dan tetap melestarikan kearifan lokal. (bud)