Loading...

Imbas Pemberitaan, Pelajar SMA SPI Disebut Alami Depresi

Senin : 05 Juli 2021 : 09:12:16
Imbas Pemberitaan, Pelajar SMA SPI Disebut Alami Depresi
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Gatot Repli Handoko

SENTRALONE.ID | SURABAYA - Gencarnya pemberitaan dugaan tindak pidana pelecehan seksual dan eksploitasi anak terhadap belasan remaja oleh JE, salah satu pendiri SMA SPI Kota Batu yang ditangani Ditreskrimum Polda Jatim rupanya berdampak serius terhadap psikologi para siswa yang saat ini menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Demikian diungkap Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, Andriyanto, Sabtu (3/7/2021).

“Dari 99 siswa yang dilakukan asesmen (penilaian) oleh Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), banyak diantaranya yang mengalami stres juga depresi. 77% siswa mengalami stres dan 10% lainnya dalam kondisi depresi,” bebernya.

Penyebabnya sambung Andriyanto, sangatlah kompleks, mulai stres ramainya pemberitaan, ketakutan akan sekolah mereka ditutup, juga aksi-aksi demo mendatangi sekolah.

Padahal, kata Andriyanto selama mereka belajar di SPI, menurut pengakuan mereka tidak mengalami kekerasan atau pelecehan seperti halnya yang dituduhkan tersebut. DP3AK Provinsi Jatim dan juga DP3AK Kota Batu saat ini kata Andriyanto fokus menyelamatkan psikologi pelajar SMA SPI. Sedangkan urusan hukum menurut Andriyanto adalah ranah kepolisian.

“Persoalan hukum bukanlah persoalan kita. Tetapi pada konteks perlindungan kepada siswa yang saat ini masih berusia anak-anak ini harus kita lindungi lahir dan bathin,”tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim, Eko Pamuji, Minggu (4/7/2021), menyatakan pihak SMA SPI dapat melakukan pengaduan ke Dewan pers apabila ada pemberitaan yang dianggap merugikan pihak sekolah. Eko Pamuji berharap setiap pemberitaan mengedepankan azas praduga tak bersalah dan menggunakan kode etik Jurnalistik.

“Tetapi faktanya sudah mempengaruhi orang tua siswa SMA SPI. Jadi semua proses hukum biar berjalan dulu,” imbuhnya.

Laki-laki yang menjabat sebagai General Manager di salah satu media cetak harian ini berpendapat penyebutan nama sekolah dengan jelas di pemberitaan memiliki batasan-batasan dan dilarang keras menghakimi.

“Kalau menyebut sekolah yang dilaporkan itu siapa? Misalnya, pelapor itu melaporkan sekolah X tidak apa-apa menyebut nama sekolah. Tetapi sebatas diduga, jadi tidak boleh menghakimi,” pungkasnya.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Gatot Repli Handoko saat dikonfirmasi perkembangan terkini kasus dugaan pelecehan seksual dan eksploitasi anak didik SMA SPI menjelaskan proses hukum masih terus berjalan. “Untuk update besok akan dikirim pihak Ditreskrimum Polda Jatim,” ucapnya.

Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Aries Merdeka Sirait sebagai pihak yang mendampingi pengaduan belasan remaja yang mengaku korban pencabulan JE di Polda Jatim sampai berita ini diturunkan masih belum dapat dikonfirmasi terkait proses hukum di Polda Jatim. Dihubungi melalui sambungan pesan dan suara WhatsApp, Minggu (4/7/2021) yang bersangkutan belum merespon.(Fajar Yudha Wardhana)