Loading...

Polrestabes Surabaya Bongkar Peredaran Uang Dolar Palsu Senilai 21 M

Senin : 08 Maret 2021 : 20:48:02 Editor: Heri Setiawan
Polrestabes Surabaya Bongkar Peredaran Uang Dolar Palsu Senilai 21 M
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Oki Ahadian menunjukan barang bukti uang dolar palsu ketika konferensi pers di Mapolrestabes Surabaya, Senin (8/3/2021).

SENTRALONE.ID | SURABAYA - Satreskrim Polrestabes Surabaya mengungkap jaringan peredaran uang palsu pecahan 100 US$ dolar.

Dari ungkap kasus itu, Satreskrim Polrestabes Surabaya berhasil mengamankan sebanyak 15 ribu lembar pecahan 100 US$ atau setara dengan 21 miliar.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Oki Ahadian Purwono menjelaskan bahwa hasil labfor membuktikan bahwa uang tersebut palsu.

“Bisa dikatakan palsu karena bentuknya tidak presisi, dan sudah dibuktikan dari hasil labfor,” jelas Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Oki Ahadian Purwono, ketika konferensi pers di Mapolrestabes Surabaya, Senin (8/3/2021).

Oki menambahkan bahwa sekilas uang palsu itu memang menyerupai uang asli.

Namun, tetap saja masih ada kekurangan dalam uang palsu tersebut.

“Uang palsunya hampir menyerupai dengan yang asli, karena jika dilihat sesekali dari bentuk dan ukuran sudah menyerupai yang asli. Namun ada beberapa yang kurang sempurna seperti tanda air, dan nomor seri. Karena dolar nomor serinya tercatat, setelah di cek tidak ada,” ungkap AKBP Oki Ahadian.

Sementara itu, Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Kompol Ambuka Yudha Hardi Putra, menambahkan bahwa dalam ungkap kasus itu, pihaknya mengamankan dua orang pelaku.

"Tersangka berjumlah dua orang, berinisial IWW (42) warga Kota Denpasar dan SMJ (56) warga Kabupaten Bangli," jelas Ambuka.

Wakasatreskrim Polrestabes Surabaya mengatakan bahwa uang dolar palsu tersebut berhasil diungkap kepalsuannya ketika korban menyerahkan uang tersebut ke Bank.

“Menurut pengakuan dari yang bersangkutan, uang ini tadinya akan dimasukkan di bank setelah diberikan oleh kedua tersangka tersebut untuk ditukar dengan surat berharga. Untuk lebih jelasnya kami kurang tahu, karena sebelumnya sudah kami amankan terlebih dahulu,” jelas Ambuka.(red)